Syndrom “5 minggu”

Syndrom 5 minggu yang menyiksa.. mungkin itu lebih tepatnya. gak bisa ketemu suami selama 5 minggu, hanya bisa pasrah dan berdoa semoga keadaannya baik-baik saja. Itulah saat ini yang sdang dirasakan oleh beberapa orang temanku karena suami mereka sedang mengikuti diklat kesamaptaan. Diklat dengan model pelatihan ala kopasus,, duh sedih membayangkannya.. Tau sendirilah bagaimana pendidikan model kemiliteran macam itu.
Tidur di pohon, di rel kereta, di kuburan… Ya Allah ngenes banget sih denger ceritanya.

Hampir tiap hari isi status fesbuk mereka menceritakan kekhawatiran mereka terhadap pasangannya… dan kalo aku dalam posisi itu akupun pasti akan melakukan hal yang sama. Apalagi saat baca status mba desy, langsung terharu deh …
Gak kebayang gimana kalo nanti aku yang dapat giliran itu, giliran ditinggal mas 5 minggu. hanya berdua dengan fathimah.. Oh nooo… it must be hard for me….

Aku hanya berharap jika memang tiba gilirannya aku yang harus mengalami "syndrom 5 minggu'' itu, aku sudah diberi kekuatan hati dan ketabahan menjalaninya.

2 thoughts on “Syndrom “5 minggu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s