Menjadi Ma(ma)hasiswa

Awal tahun ini saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya. Keputusan ini saya ambil setelah melalui berbagai pertimbangan, baik dari saya maupun dari suami. Awalnya saya malas mau melanjutkan kuliah ini, saya pikir mau ngapain saya kuliah toh saya sudah kerja dan sudah ada pemikiran untuk (insya allah) resign dari pekerjaan beberapa tahun ke depan. Tapi kemudian saya berpikir kuliah bukan hanya sekedar untuk pengembangan karier, atau untuk alasan saya sudah bekerja sudah punya penghasilan jadi gak perlu capek-capek belajar lagi. Pendidikan adalah hal yang penting, meskipun saya sudah bekerja, saya tetap harus belajar. Memang bukan untuk karier, tapi untuk kepuasan batin saya sendiri. Dan yang lebih utama, saya berhutang janji pada orang tua saya terutama kepada mamak, bahwa saya akan melanjutkan pendidikan saya dan memperoleh gelar sarjana (yang tertunda). Flash back sebentar, dulu saya sempat kuliah di salah satu universitas negeri di Pontianak, semester 4 tetapi kemudian saya men-DO-kan diri karena saya diterima di Program Diploma I STAN. Ya diploma I rezeki saya waktu itu. Lulus STAN itupun berkat dorongan yang sangat kuat dan doa dari mamak saya. Kata beliau “gelar sarjana bisa kapan saja kamu peroleh meskipun kamu sudah bekerja. tapi kalo diterima STAN dan jadi pegawai negeri itu kesempatan yang baik. Belum tentu kalo kamu udah sarjana kamu bisa jadi pegawai negeri.” Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut akhirnya saya putuskan untuk lanjut kuliah.

Lantas kuliah di mana saya?
Hmmm…ini yang bikin saya awalnya malas kuliah, mau kuliah di mana?? Udah ada titel “emak-emak” bikin hati selalu bimbang kalo harus keluar rumah di luar jam kerja, maunya weekend ya bersama si gendhuk dan ayahnya.
Akhirnya setelah liat temen-temen yang kuliah di beberapa universitas baik swasta ataupun negeri, saya memutuskan untuk daftar kuliah di kampusnya emak-emak, yaitu Universitas Terbuka😀. Beneran nih?? Iyya.. benar, saya daftar di UT.

Ternyata kuliah di UT itu tidak semudah yang saya bayangkan. Jujur dulu saya sempat senyum-senyum waktu denger UT karena dibenak saya kuliah di sana mudah, gampang dapat nilai gak usah tatap muka sama dosen bisa dapat nilai bagus. Tapi ternyata anggapan saya yang dulu itu SALAH BESAR. Ternyata kuliah di UT gak semudah yang dilihat. Kita harus usaha sendiri cari modul, ikut tutorial online atau tutorial tatap muka bagi yang sempat. Mengerjakan tugas-tugas yang diberikan tutor pun harus mandiri karena kita harus pinter-pinter mencari literatur yang sesuai (untuk masalah ini saya mengandalkan fasilitas internet, mbah gugel dan donlot e-book). Jadi berasa seperti mahasiswa beneran🙂

Semoga saya bisa tekun menjalani aktivitas baru ini ya. Amin.

2 thoughts on “Menjadi Ma(ma)hasiswa

    • terima kasih banyak untuk doanya mba
      kalo boleh jujur,, saya “KETETERAN” nih… ternyata otak udah gak seencer dulu, mikir aja susah gimana mau ngejawab soal-soal ya..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s